dalam kelelahan seharian berjuang menuntut ilmu

dalam kelelahan seharian berjuang menuntut ilmu
The best is to take a break to pray to Allah
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahlan wa sahlan bi huzhurikum
Selamat datang siapapun di
go..Blog saya Silakan simak apa yang terpapar di sini. Segala masukan, tegur sapa, diskusi akan akan saya terima sebagai kehormatan kepada tamu-tamu saya, kalo ada kata ato kalimat yang menyinggung perasaan saya mohon ma'af Zhahir-Bathin dan
ojo dilaporke!!

PESAN UNTUK KELAS TIGA

Mari hadapi bersama Kasunyatan dari Keniscayaan yang telah niati bersama dalam dialektika hidup sebagai teatrika kita di dinding sejarah kehidupan.
Nyong ra bisa nulung,
Minta tolonglah pada SHABAR (usaha Insaniyah) dan SHALAT (usaha Ilahiyah), namun sesungguhnya itu sangat berat kecuali bagi orang yang KHUSYU'(bersungguh-sungguh)



Sabtu, 24 Oktober 2015

Pentingnya Internalisasi nilai-nilai keislaman dalam Pendidikan di SMK Muhammadiyah 1 Weleri untuk Perkaderan

Internalisasi(internalization) diartikan sebagai penggabungan atau penyatuan  sikap, standar tingkah laku, pendapat, dan seterusnya di dalam kepribadian(J.P. Chaplin : 2005).
Reber, sebagaimana dikutip Mulyana mengartikan internalisasi sebagai menyatunya nilai dalam diri seseorang, atau dalam bahasa psikologi merupakan penyesuaian keyakinan, nilai, sikap, praktik dan aturan–aturan baku pada diri seseorang(Mulyana : 2004). Pengertian ini mengisyaratkan bahwa pemahaman nilai yang diperoleh harus dapat dipraktikkan dan berimplikasi pada sikap. Internalisasi ini akan bersifat permanen dalam diri seseorang.
Sedangkan Ihsan memaknai internalisasi sebagai upaya yang dilakukan untuk memasukkan nilai–nilai kedalam jiwa sehingga menjadi miliknya(Ihsan : 1997). Jadi masalah  internalisasi ini tidak hanya berlaku pada pendidikan agama saja, tetapi pada semua aspek pendidikan, pada pendidikan pra-sekolah, pendidikan sekolah, pengajian tinggi, pendidikan latihan perguruan dan lain – lain.

Dalam kaitannya dengan nilai, pengertian– pengertian yang diajukan oleh beberapa ahli tersebut pada dasarnya memiliki substansi yang sama. Dengan demikian penulis menyimpulkan bahwa internalisasi sebagai proses penanaman nilai  kedalam jiwa seseorang sehingga nilai tersebut tercermin pada sikap dan prilaku yang ditampakkan dalam kehidupan sehari–hari (menyatu dengan pribadi). Suatu nilai yang telah terinternalisasi pada diri seseorang memang dapat diketahui ciri–cirinya dari tingkah laku.
Pelaksanaan pendidikan nilai melalui beberapa tahapan, sekaligus menjadi tahap terbentuknya internalisasi yaitu:
a.       Tahap transformasi nilai.
Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pendidik dalam menginformasikan nilai–nilai yang baik dan yang kurang baik. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara pendidik dan peserta didik(Muhaimin : 1996). Transformasi nilai ini sifatnya hanya pemindahan pengetahuan dari pendidik ke siswanya. Nilai–nilai yang diberikan masih berada pada ranah kognitif peserta didik dan pengetahuan ini dimungkinkan hilang jika ingatan seseorang tidak kuat.
  1. Tahap transaksi nilai
                 Pada tahap ini pendidikan nilai dilakukan melalui komunikasi dua arah yang terjadi antara pendidik dan peserta didik yang bersifat timbal balik sehingga terjadi  proses interaksi(Muhaimin : 1996). Dengan adanya transaksi nilai pendidik dapat memberikan pengaruh pada siswanya melalui contoh nilai yang telah ia jalankan. Di sisi lain siswa akan menentukan nilai yang sesuai dengan dirinya.
  2.  Tahap tran-internalisasi
Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi pada tahap ini komunikasi kepribadian yang berperan  aktif(Muhaimin : 1996). Dalam tahap ini pendidik harus betul–betul memperhatikan sikap dan prilakunya agar tidak bertentangan yang ia berikan kepada peserta didik. Hal ini disebabkan adanya  kecenderungan siswa untuk meniru apa yang menjadi sikap mental dan kepribadian gurunya.
Secara garis besar tujuan pembelajaran memuat tiga aspek pokok, yaitu: knowing, doing, dan being atau dalam istilah yang umum dikenal aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Internalisasi merupakan pencapaian aspek yang terakhir (being). Untuk selanjutnya penulis akan memaparkan ketiga aspek tujuan pembelajaran tersebut secara singkat.
a.       Mengetahui (knowing).
Disini tugas guru ialah mengupayakan agar murid mengetahui suatu konsep. Dalam bidang keagamaan misalnya murid diajar mengenai pengertian sholat, syarat dan rukun sholat, tata cara sholat, hal-hal yang membatalkan sholat, dan lain sebagainya. Guru bisa menggunakan berbagai metode seperti; diskusi, Tanya jawab, dan penugasan. Untuk mengetahui pemahaman siswa mengenai apa yang telah diajarkan guru tinggal melakukan ujian atau memberikan tugas-tugas rumah. Jika nilainya bagus berarti aspek ini telah selesai dan sukses(Tafsir : 2006).
 b.      Mampu melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui (doing)
Masih contoh seputar sholat, untuk mencapai tujuan ini seorang guru dapat menggunakan metode demonstrasi. Guru mendemonstrasikan sholat untuk diperlihatkan kepada siswa atau bisa juga dengan memutarkan film tentang tata cara sholat selanjutnya siswa secara bergantian mempraktikkan seperti apa yang telah ia lihat di bawah bimbingan guru. Untuk tingkat keberhasilannya guru dapat mengadakan ujian praktik sholat, dari ujian tersebut dapat dilihat apakah siswa telah mampu melakukan sholat dengan benar atau belum(Tafsir : 2006).
c.       Menjadi seperti yang ia ketahui (being)
Konsep ini seharusnya tidak sekedar menjadi miliknya tetapi menjadi satu dengan kepribadiannya. Siswa melaksanakan sholat yang telah ia pelajari dalam kehidupan sehari-harinya. Ketika sholat itu telah melekat menjadi kepriadiannya, seorang siswa akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga sholatnya dan merasa sangat berdosa jika sampai meninggalkan sholat. Jadi ia melaksanakan sholat bukan karena diperintah atau karena dinilai oleh guru(Tafsir : 2006).
Di sinilah sebenarnya bagian yang paling sulit dalam proses pendidikan karena pada aspek ini tidak dapat diukur dengan cara yang diterapkan pada aspek knowing dan doing. Aspek ini lebih menekankan pada kesadaran siswa untuk mengamalkannya. Selain melalui proses pendidikan di sekolah perlu adanya kerja sama dengan pihak orang tua siswa, mengingat waktu siswa lebih banyak digunakan di luar sekolah. Dalam kajian psikologi, kesadaran seseorang dalam melakukan suatu tindakan tertentu akan muncul tatkala tindakan tersebut telah dihayati (terinternalisasi).
Sekolah Muhammadiyah adala lembaga pendidikan yang didirikan untuk kepentingan menginternalisasi nilai-nilai keislaman dengan tujuan pendidikannya yaitu Membentuk manusia muslim yang  beriman, bertaqwa,  berakhlaq mulia, cakap, percaya diri sendiri,  berdisiplin, bertanggung jawab, cinta tanah air, memajukan dan memperkembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan dan beramal menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar benarnya( PP. Muhammadiyah Majlis Dikdasmen :  2000).
Pendidikan Muhammadiyah membawa misi pendidikan Islam yang komprehensif dimana terjadi perimbangan yang memadai antara pendidikan yang membekali siswanya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kehidupannya secara material dan social dan pendidikan yang bertujuan membentuk karakter keislaman kepada anak didiknya. Tujuan pendidikan yang demikian juga tercermin dalam sistem pendidikan Muhammadiyah, terutama komponen bahan pelajaran, yang merupakan kompromi antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu pengetahuan pada umumnya. Pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Allah yang selalu bertakwa kepadaNya, dan dapat mencapai kehidupan yang berbahagia di dunia dan akhirat (lihat QS. Al-Dzariat:56)
" Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku"

Tujuan Pendidikan yang digagas KH Ahmad Dahlan adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai "ulama-ulama intelek" atau "intelek ulama", yaitu sorang Muslim yang memiliki keteguhan iman dan Ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani.
 Muhammadiyah  merupakan  organisasi sosial keagamaan,  lebih dikenal sebagai organisasi yang berusaha memperbaharui pemahaman terhadap ajaran serta nilai-nilai Islam sejak awal  berdirinya pada tahun 1912. Muhammadiyah juga merupakan salah satu organisasi terpenting di Indonesia sebelum Perang Dunia II sampai saat sekarang ini. Muhammadiyah  didirikan tidak hanya didorong karena  sikap reaksioner pemerintah kolonial Belanda terhadap agama Islam dan perkembangannya, akan tetapi juga karena tuntutan sejarah --yang mana umat Islam memerlukan sinar baru-- dalam menghadapi dunia modern(Stoddart : 1966)
Sejak saat itu Muhammadiyah berkembang menjadi salah satu organisasi terbesar di Indonesia bahkan di dunia. Dilihat dari amal usahanya yang tersebar di seluruh pelosok nusantara, tidak dapat dipungkiri bahwa Muhammadiyah --apabila kekayaan Muhammadiyah diseluruh tanah air dikumpulkan-- maka dapat dikatakan bahwa Muhammadiyah adalah bukan hanya LSM terbesar, tetapi juga konglomerat yang sangat besar(Amien Rais : 1995).
Dinamika gerakan Muhammadiyah mempunyai identitas hakiki sebagai Gerakan Islam, Gerakan Dawah dan Gerakan Tajdid  atau  pembaharuan pemikiran dan pemahaman terhadap ajaran- ajaran Islam. Ide-ide pembaharuan Muhammadiyah ini berasal dari  inspirasi KH. Ahmad Dahlan saat  berkomunikasi dengan para Modernis-Reformis Islam Timur Tengah dan penghayatannya  terhadap  teks-teks  Al Qur-an  serta realitas sejarah umat Islam  yang terbelenggu dalam kebodohan.
Dalam berhubungan dengan para refor mis Islam Timur tengah tersebut banyak menangkap ide- ide pembaharuan yang dibawa oleh Muhammad Abduh (1849-1905) diantaranya ialah:  pertama, mengajak umat Islam untuk memurnikan kembali ajaran Islam dari pengaruh dan praktik- praktik keagamaan yang berasal dari bukan Islam.  Kedua, reformasi Pendidikan Islam.  Ketiga, membela Islam(Abduh : 1969). Bertolak dari pemikiran Abduh inilah Muhammadiyah mencanangkan cita-citanya yaitu Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya(PP. Muhammadiyah : 1995).
Selanjutnya Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan Islam tidak hanya berpijak pada realitas sejarah yang menjadi salah satu faktor kelahirannya, yakni sebagai santri yang kritis dan sadar akan pentingnya pemurnian ajaran Islam dari akulturasi tradisi yang berujung pada sinkretisme dan mensosialisasikan pendayagunaan akal dalam menyikapi sistem peribadatan sebagai ritus hingga praktik-praktik sufisme eksklusif yang harus diluruskan saja, melainkan juga berorientasi kepada menciptakan tata kehidupan sosial berdasarkan nilai-nilai dan kaidah -kaidah ajaran Islam(Mulkhan  : 1990).
Untuk menggapai cita-citanya tersebut Muhammadiyah juga telah merumuskan konsepsi Keyakinan dan Cita- cita Hidup- nya, antara lain : Pertama, Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya Aqidah Islam yang murni. Kedua,  Menegakkan nilai-nilai Akhlaqul Karimah yang bersumber kepada Al Qur-an dan Al Sunnah Shahihah.  Ketiga,  Menegakkan peribadatan sesuai dengan yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Keempat, Menegakkan pelaksanaan Muammalat Dunyawiyat berdasarkan ajaran agama Islam dan menjadikannya ibadah kepada Allah SWT(PP Muhammadiyah : 2000).
Sasaran dakwah Muhammadiyah ada dua bidang : Bidang perorangan dan Masyarakat. Bidang perorangan ada dua sub sasaran yaitu bagi yang sudah Islam berupa pembaharuan pemahaman Islam(Reformasi-Tajdid), yaitu memunculkan interpretasi-interpretasi baru terhadap  Nash-nash Qath’i  dengan menggunakan metode-metode dan kaidah-kaidah penafsiran dan Ijtihad yang benar agar dapat diejawantahkan dalam kehidupan  sehari- hari sesuai dengan kebutuhan pada zamannya tanpa memanipulasi konteks ajaran. Dan pemurnian ajaran Islam(Purifikasi-Tanzih), agar keimanan dan peribadatan ummat Islam tidak bercampur dengan ajaran yang bukan Islam. Bagi yang belum Islam berupa seruan dan ajakan untuk memeluk Islam. Sedangkan dakwah  kepada masyarakat bersifat Perbaikan, Bimbingan dan Peringatan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam kehidupan pribadi dan masyarakat(PP Muhammadiyah : 2000). Sejalan dengan sejarah perkembangannya tidak dapat dipungkiri bahwa pada satu sisi Muhammadiyah memiliki daya dinamika yang kuat pada perkembangannya baik bertambahnya anggota maupun makin banyaknya amal usaha- amal usaha di berbagai bidang. Namun tidak dapat dipungkiri pula pada sisi lain bahwasanya dengan perkembangannya yang pesat itu Muhammadiyah mengalami penurunan pada kualitas amal usahanya terutama jika dihubungkan dengan fungsi Muhammadiyah sebagai  Gerakan Islam yang dapat terungkap diantaranya;  Pertama, Mundurnya ruh Islam dalam kegiatan dan amal usaha Muhamadiyah.  Kedua, Kualitas madrasah/sekolah Muhammadiyah, terutama jika dipandang dari sudut Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam. Ketiga,  Ketertiban organisasi dan administrasi.  Walaupun konstatasi tersebut di atas tidak selamanya obyektif, namun harus  diterima bahwasanya hal ini merupakan gejala umum di Muhammadiyah (Djazman : 89)
Suatu organisasi yang tidak dapat lagi menguasai dan mengefektifkan anggotanya sendiri maka organisasi tersebut akan ketinggalan dari perkembangan obyektif dan akan kehilangan  daya inisiatifnya(PP Muhammadiyah, 2000). Kalau hal ini terjadi pada Muhammadiyah maka Muhammadiyah akan kehilangan fungsinya sebagai  Jamaah yang mengajak  dan akan selalu terombang-ambing oleh perubahan kondisi dan situasi  sosial dimana ia hidup, dan tidak mungkin lagi mempunyai daya  agent of change  dalam kaitan fungsinya sebagai gerakan dakwah Islam. Ikhtiyar untuk mengatasi hal tersebut secara konsepsional sudah sering dilakukan, antara lain: dengan merumuskan konsep Kepribadian Muhammadiyah, Penjelasan Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Khittah- khittah Perjuangan Muhammadiyah, Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah,  Tajdid Gerakan dan lain-lain yang setidaknya dapat dipakai oleh persyarikatan untuk membentuk karakter perilaku berorganisasi dan bermasyarakat, walaupun kadang konsep-konsep ini terabaikan dan hanya menjadi karya monumental dikarenakan pimpinan banyak direpotkan oleh hal-hal yang berbau teknis organisasi dan gesekan- gesekan dari luar yang menuntut pimpinan untuk bersikap.   Maka  pada sisi lain tidak kalah pentingnya adalah jamaah penggerak organisasinya yakni Kader yang mempunyai peranan penting, karena dalam konteks  pengembangan organisasi ia memang dididik dan dilatih untuk menjadi inti dan tulang punggung  organisasi. Kader membawa kearah mana organisasi akan dibawa, maka ia berkedudukan, berperan  stakeholder  dan berfungsi sebagai  playmaker oganisasi dimana ia berada. Kader sering diartikan hanya sebagai seorang calon pemimpin saja. Dalam batas- batas tertentu pengertian tersebut memang benar, tetapi sebenarnya kader mempunyai pengertian yang lebih luas dari itu. Kader adalah kelompok manusia yang terbaik karena terlatih dan terdidik, yang merupakan tulang punggung dari kelompok yang lebih besar dan  terorganisir secara permanen. Dengan demikian, salah satu tujuan kaderisasi dalam organisasi masyarakat Islam adalah menciptakan pemimpin yang mampu menegakkan syariat Islam dan benar-benar bisa  membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Kader berarti elite  ialah bagian yang terpilih dan terbaik karena terdidik dan terlatih, yang berarti jantung dari suatu organisasi. Karena itu jika kader suatu organisasi lemah, maka seluruh aspek dan bagian- bagian dari organisasi akan lemah. Kader atau  Cadre (bahasa Perancis) berarti inti tetap pada suatu resimen. Daya juang suatu resimen itu sangat tergantung pada kualitas kadernya yang merupakan pusat semangat dan Avantgarde-nya(Djazman : 1989).  Dalam  bahasa latin, kader adalah Quadrum yang berarti empat persegi panjang,  bujur sangkar, atau kerangka (Djazman :1989) Jadi kader merupakan kelompok elit yang  mapan dan terlatih dengan baik, yang menjadi tulang punggung organisasi dengan kualitas dan nilai lebihnya.  Kader yang berkualitas ditandai dengan adanya daya tanggap yang kuat terhadap dinamika perkembangan zaman dan kemampuan antisipasi ke masa depan(Bahtiar : 2004). Untuk itu, hanya orang- orang yang terpilih dan berpengalaman dilapangan dan bermutu yang disebut kader.
Dari sejarah Islam kita dapat menarik banyak pelajaran antara lain te ntang cara pembinaan kader di kalangan ummat Islam yang pertama kali. Rumah Arqam bin Arqam  yang terletak di dekat  Safwa  tak jauh dari Masjid Al Haram, Makkah dipergunakan oleh Rasulullah untuk menggembleng dan membina keislaman dan persaudaraan diantara orang-orang yang pertama masuk Islam. Di rumah inilah untuk pertama kali dijalin ikatan persaudaraan sesama muslim dan dijalin pula ikatan seorang muslim dengan agamanya, maka kemudian lahirlah para shahabat Rasulullah yang menyadari tugasnya untuk mendakwahkan Islam di tengah- tengah masyarakat Jahiliyah. Untuk itu jelaslah diperlukan keteguhan Iman, ketahanan mental dan kesediaaan  untuk berkorban apa saja dan diperlukan rasa solidaritas yang tinggi diantara mereka(Djazman : 1989).
Sejarah perkembangan Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari pendidikan kader. Hal tersebut secara sadar dimaksudkan untuk mengembangkan  sendiri  anak didik agar mampu berperan di masyarakat dan juga di Muhammadiyah.  Begitu pula keberadaan kader dan pe rkaderan yang bermutu tak dapat ditawar-tawar lagi  bagi keberlanjutan gerak dan perjuangan Muhammadiyah sekarang dan masa depan. Dalam hal ini Prof . DR. Mukti Ali pernah menyatakan: Baik buruknya organisasi Muhammadiyah pada masa yang akan datang dapat dilihat dari baik buruknya pendidikan kader yang sekarang ini dilakukan. Jika Pendidikan Kader Muhammadiyah sekarang ini baik, maka Muhammadiyah pada masa  akan yang akan datang baik. Sebaliknya apabila jelek, maka Muhammadiyah pada masa datang juga jelek(PP Muhammadiyah MPK : 2008).
Kewajiban dan tanggung jawab moral untuk menaruh kepedulian terhadap pengkaderan dan  kaderisasi   ini tidak berbeda dengan peringatan Allah bagi ummat Islam agar memperhatikan anak keturunannya atau generasi pelanjutnya . Sebagaimana statement Allah :
Dan hendaklah takut kepada Allah orang -orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah  mereka mengucapkan Perkataan yang benar.”(QS : Al Nisa : 9)

Bagi Muhammadiyah pengkaderan dan kaderisasi merupakan kegiatan yang tidak pernah berhenti(Never Ending Job) sebagai kebutuhan pokok merupakan mainstream dari semua kegiatan pemberdayaan anggota persyarikatan serta membutuhkan penanganan serius, berkelanjutan dan Istiqamah. Pengkaderan dan Kaderisasi menjadi program penting dan strategis mengingat misi dan eksistensi Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dan Dakwah Islam Amar ma’ruf Nahi Munkar yang bersumber pada Al Qur-an dan Al Sunnah Shahihah(PP Muhammadiyah : 2000) yang berkesinambungan menuntut adanya alih generasi dari waktu ke waktu. Oleh karena itu Muhammadiyah harus selalu bergerak untuk  kemajuan, dan dalam gerakannya itu keberadaan kader yang bermutu dan konsisten  memiliki arti penting bagi persyarikatan.
Sejak Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912, lembaga  kaderisasi yang dibentuk pertama kali oleh KH. Ahmad Dahlan adalah Fatkhul Asrar Miftahus Saadah, Ikhwanul Muslimin, Wal Fajri, dll merupakan kelompok pengajian yang dipimpinnya sendiri. Selanjutnya lembaga ini mengalami penyempurnaan dan perubahan nama menjadi “Qismul Arqa”, Pondok Muhammadiyah di tahun 1920 dan akhirnya menjadi Madrasah Muallimin dan Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta” (Djazman : 1989).
Meskipun bentuk dan organisasi lembaga pendidikannya masih sederhana, namun produk yang dihasilkannya telah mampu menopang keberadaan Muhammadiyah pada waktu itu berkat pilihan metodik dan didaktik yang tepat. Tahun 1918 KH. Ahmad Dahlan mendirikan  Standart School Muhammadiyah di Suronatan, Yogyakarta yang pengelolaannya dipercayakan kepada Somodirojo bertujuan untuk mencetak intelektual muslim yang berakhlaq mulia, cakap percaya pada diri sendiri dan berguna bagi masyarakat(PP Muhammadiyah MPK : 2008).
Sekolah ini berfungsi sebagai tempat pendidikan juga diarahkan bagi kepentingan perkaderan untuk Muhammadiyah.  Disamping itu  pada masa-masa selanjutnya  Muhammadiyah juga mendirikan lembaga-lembaga pendidikan lainnya, baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah, bahkan juga mendirikan pendidikan tinggi, namun sampai sekarang pernyataan resmi  bahwa yang dinyatakan sebagai sekolah kader bagi Muhammadiyah adalah Madrasah Muallimin, Muallimat kemudian Pondok Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta, Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PTUM) dan Pondok Darul Arqam Muhammadiyah di beberapa daerah di Indonesia. Alumni-alumni  dari lembaga pendidikan  Muhammadiyah  tersebut di kemudian hari akan menjadi penyangga  utama bagi keberadaan Muhammadiyah dan berfungsi sebagai pusat sumber daya manusia yang penting. Walaupun tidak semua sumberdaya Muhammadiyah berasal dari lembaga-lembaga itu, namun tidak dapat dipungkiri bahwa  kader-kader Muhammadiyah yang tampil berasal dari lembaga pendidikan    Muhammadiyah yang  notabene  berbasis dan  memiliki tradisi pengkaderan dan kaderisasi   memunculkan kader- kader yang memiliki komitmen dan integritas yang tinggi kepada persyarikatan di berbagai tingkatan pimpinan Muhammadiyah. Di samping itu Muhammadiyah juga mengadakan lembaga pengembangan potensi lainnya yang diselenggarakan secara informal, seperti Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, organisasi- organisasi otonom Angkatan Muda Muhammadiyah seperti Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Tapak Suci Putera Muhammadiyah  dan  lain - lain   yang tergabung dalam Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM)( Bahtiar : 2004)
Melihat Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan sebenarnya Muhammadiyah mempunyai potensi dan peluang untuk melahirkan kader-kader dari rahim AUM sendiri  dan  siap memimpin Muhammadiyah sebagaimana pesan KH. Ahmad Dahlan : Menjadilah Insinyur, Guru, Mester, dan kembalilah berjuanglah dalam Muhammadiyah(Mulkan : 1990).
Djoko Susilo dalam Muhammad Ali memberikan penguatan bahwa penyiapan kader  harus dikelola sebaik-baiknya, dan tempat yang paling ideal adalah lembaga pendidikan Muhammadiyah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi harus digarap dengan sungguh- sungguh apalagi tantangan yang dihadapi semakin kompleks dan sulit(Ali : 1995).  Kebutuhan merevitalisasi pendidikan Muhammadiyah sebagai basis perkaderan dan kaderisasi sangat mendesak karena beberapa alasan;  Pertama,  Basis tradisional kaderisasi Muhammadiyah semakin memudar, seperti kegiatan pengajian ahad pagi, pengajian bulanan dan lain - lain yang   biasanya diselenggarakan di tingkat  Cabang dan  Ranting.  Kedua, berurutan dengan matinya kegiatan pengajian tersebut  pada urutannya berdampak pada matinya pusat kegiatan anggota Muhammadiyah yaitu  Ranting Muhammadiyah.
Tujuan pendidikan Muhammadiyah sangat sesuai dengan maksud itu, ialah:Membentuk manusia muslim yang  beriman, bertaqwa,  berakhlaq mulia, cakap, percaya diri sendiri,  berdisiplin, bertanggung jawab, cinta tanah air, memajukan dan memperkembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan dan beramal menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar benarnya( PP. Muhammadiyah Majlis Dikdasmen :  2000)
Sangatlah relevan dengan Latar belakang Sistem Perkaderan Muhammadiyah yang memberikan ciri- ciri pengembangan sebagai berikut :
1.      Terinternalisasinya nilai-nilai ajaran Islam yang bersumber pada Al Qur-an dan Al Sunnah dalam Sistem Perkaderan Muhammadiyah.
2.      Terevitalisasinya sistem perkaderan yang terpadu dan teratur serta dilandasi keikhlasan dan komitmen.
3.      Termanifestasinya Ideologi, Visi dan Misi Persyarikatan dalam sistem Perkaderan.
4.      Terintegrasinya perkaderan dalam lembaga pendidikan milik Persyarikatan (mulai dari Taman Kanak- kanak sampai perguruan Tinggi)( PP Muhammadiyah MPK : 2008)
Dari keempat ciri pengembangan di atas dapat dinyatakan bahwa Pendidikan Muhammadiyah merupakan salah satu unsur penting dalam Sistem Perkaderan Muhammadiyah  maka visi dan misinya pun harus  seiring  dengan sistem  perkaderan Muhammadiyah, dan diantara uraian dari tujuan pendidikan muhammadiyah yaitu setelah siswa mendapatkan ma teri Pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan akan terjadi perubahan tingkah laku, untuk menyiapkan diri  menjadi:
1.  Kader Persyarikatan Muhammadiyah, yang akan berjuang bersama-sama kader Muhammadiyah lainnya dalam Persyarikatan.
2. Kader Ummat Islam, yang mempunyai kompetensi dasar keislaman yang memadai beraqidah dan beribadah yang benar, berakhaq mulia serta sanggup membela Islam dan  ummat Islam.
3. Kader bangsa Indonesia, yang berkepribadian Islam, bersama bangsa Indonesia lainnya membela Negara Kesatuan Republik Indonesia dan  ikut bertanggung jawab  membangun bangsanya. (PDM Dikdasmen Surakarta : 1999)
Usaha-usaha untuk mewujudkan hal tersebut di atas telah lama diusahakan dengan merumuskan Sistem Pendidikan Muhammadiyah yang Kurikulum Pendidikannya  mengintegrasikan antara materi pendidikan  umum  dengan materi pendidikan Al - Islam dan Kemuhammadiyahan pada semua jenis dan jenjang pendidikan Muhammadiyah.
Pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan menjadi kurikulum wajib yang harus disampaikan kepada para siswanya di setiap semester  sebagai kurikulum ciri khusus   dari tahun ke tahun mengalami pembaharuan, penyesuaian dan inovasi. Harapan untuk menjadikan Sekolah Muhammadiyah yang ikut berperan mencetak kader-kader Muhammadiyah dengan berbagai usaha tersebut bukan tanpa kendala;   Pertama, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan Lembaga-lembaga Pendidikan Muhammadiyah(AUM)  yang  notabene  berada di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sistem pendidikan Nasional, dan sistem budaya masyarakat Indonesia, pola pikir dan pola perilaku pendidikan masyarakat Indonesia yang mulai cenderung pragmatis. Kedua,  Raw-Input lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah tidak semuanya mempunyai tujuan untuk menjadi siswa yang disiapkan dan atau bersedia disiapkan untuk menjadi calon kader Muhammadiyah dan tidak cukup mempunyai kompetensi dan komitmen keislaman serta sebagian besar latar belakang keluarga siswa  yang heterogen  yang tidak  cukup  menjadi modal dasar untuk dijadikan calon kader Muhammadiyah,  Ketiga,  para pendididik dikalangan Muhammadiyah tidak semuanya memahami akan kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik yang ikut serta menyiapkan siswanya untuk menjadi calon kader disebabkan karena minimnya sumber daya pendidik yang mempunyai figur diversifikatif yaitu guru  sekaligus  kader Muhammadiyah. Keempat, lembaga-lembaga Pendidikan Muhammadiyah secara sistemik terdesak oleh tekanan kelembagaan dari sistem pendidikan Nasional  hanya menyiapkan siswanya menjadi tenaga terdidik dan terampil secara akademis dan mengabaikan tujuan pendidikan Muhammadiyah yang merupakan salah satu komponen sistem perkaderan Muhammadiyah. Walaupun konstatasi diatas tidak semuanya benar setidaknya sudah merupakan gejala umum yang ada dan patut mendapatkan perhatian.
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 1 Weleri Kendal pada tahun-tahun dua dasawarsa sejak  berdirinya  dapat dijadikan satu contoh potret dari konstatasi diatas. Namun pada awal dasawarsa ketiga menampakkan gejala untuk merapatkan barisan pada usaha- usaha kembali menjadi salah-satu komponen sistem Perkaderan Muhammadiyah berupa Amal Usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan yang ikut serta menyiapkan calon-calon Kader Muhammadiyah di masa-masa mendatang dengan menampilkan pendidikan kejuruan yang tidak mengesampingkan internalisasi nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan baik melalui implementasi Kurikulum Ciri Khusus Al Islam dan Kemuhammadiyahan yang digariskan oleh PP Muhammadiyah Majlis Pendidikan Dasar  dan Menengah  pada pembelajaran teoretik-praktik maupun kegiatan-kegiatan  Intra Kurikuler,  Ko-Kurikuler, dan Ekstra kurikuler  yang mengarahkan siswanya untuk mengenal lebih dekat dan terlibat sehingga diharapkan akan muncul eksperiens hidup mereka pada penghayatan akan kebesaran  Islam   dan dakwah Islam yang diperjuangkan oleh Muhammadiyah
Komitmen SMK Muhammadiyah 1 Weleri  Kendal  tersebut diatas mengharuskan untuk mendesain ulang implementasi Pendidikan Ciri khusus Al Islam Ke muhammadiyahan yang tidak  hanya sekedar kegiatan pembelajaran intra kurikuler yang bertumpu pada keharusan untuk menyampaikan isi silabus Kurikulum KTSP yang dibatasi oleh kotak-kotak  Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar  yang telah dipaketkan oleh PP Muhammadiyah Majlis Dikdasmen dan jam pembelajaran yang sangat terbatas semata, melainkan juga penguatan pada kegiatan pembelajaran intra kurikuler yang bersifat non struktural  yang  menuntut adanya improvisasi pembelajaran, misalnya treatment pada pembudayaan-pembudayaan(enkulturasi) ajaran Al Qur-an dan Al Sunnah, pembudayaan disiplin, pembudayaan kekaderan, pembudayaan bersosialisasi dengan Muhammadiyah beserta amal usahanya dan lain-lain, maka SMK Muhammadiyah 1 Weleri memberikan beberapa pembudayaan  amilu Al Shalihat  kepada siswanya sebagai upaya internalisai nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan  antara lain berupa tadarus  Al Qur-an pagi, kebiasaan Shalat Dhuha, Shalat Dhuhur  berjamaah, Shalat Jumah, Qiyamullail, Shalat-shalat Sunnah, berinfaq/shadaqah dan   menunai kan zakat fitrah maupun  zakat Amwal, pembiasaan berpakaian busana Muslim/muslimah  dengan benar,  mengikuti pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah,  membangun sillaturrahim baik dengan sesama siswa, guru, masyarakat maupun kepada warga Muhammadiyah, berorganisasi di IPM dan  berlatih Seni Beladiri di  TSPM, pelatihan  fisik dan mental dan ketrampilan dengan Hizbul Wathan serta Hiking dan kemah bersama/Torseni. Dialog dengan tokoh Muhammadiyah baik dalam Kajian Pelajaran Kemuhammadiyahan maupun ketika Masa Pembekalan Anggota(MAPETA) IPM  pada masa akhir   pendidikan SMK, serta penyerahan kader kepada pimpinan Persyarikatan ketika mulai kembali ke masyarakat.
Siswa SMK Muhammadiyah 1 Weleri sebagian besar berasal dari kota kecamatan Weleri dan sekitarnya dengan berbagai latar belakang keyakinan dan pemahaman serta latar  belakang keluarga yang dalam prosentase besar adalah keluarga Nahdhiyun dan lain-lain. Hal ini sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap mereka dalam  ”menerima”   pendidikan  Islam ala Manhaj Muhammadiyah yang banyak menampilkan ciri puritanisme, egalitarianisme, dan  penggiatan 'amilu Al Shalihah  nyata yang  mulai  jarang mereka temukan di lingkungan masyarakat dan atau keluarganya. Kultur masyarakat pluralis, keberagamaan dan faham keIslaman berbeda yang dihadapi, mengharuskan gerakan dakwah Muhammadiyah di Weleri khususnya dan Muhammadiyah pada umumnya memperkaya perangkat dakwah berupa software dakwah  yaitu perangkat teoretik seperti hasil riset, metodologi, strategi, manajemen dan  hardware dakwah yaitu kader-kader yang menjadi  ujung tombak  persyarikatan baik muballigh/da’i maupun guru Muhammadiyah.  Atau dengan ungkapan lain  Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan Islam pasti membutuhkan kader-kader pelopor, pelangsung dan penyempurna perjuangan Muhammadiyah. Oleh karena itu, sejak kelahiran Muhammadiyah, tuntutan tersebut secara berkesinambungan harus diwujudkan dan pemikiran sistematisnya diformulasikan dalam bentuk Sistem Perkaderan.
Pengkaderan dan kaderisasi  menjadi program yang sangat penting dan strategis. Keberadaan kader itu bukan saja untuk keberlangsungan regenerasi dan suksesi  kepemimpinan yang terjaga, tetapi juga penambahan personil yang memperkuat barisan dakwah dan jihad yang terorganisir(PP Muha mmadiyah, MPK : 2007).
Doelwaheed, 2014

Tidak ada komentar:

Radione Ngayogyokarto

Radione Ngayogyokarto
Cem macem tak iye

Sinau Tajwid

THE FINE TARGET

THE FINE TARGET
dickceplek

Fishing in Art

Fishing in Art
Mau lihat situasi laut...click gambar